Ramaikan Hari Jadi Kota Surabaya Ke-729, Ketoprak Ngesti Budoyo Tuai Tepuk Tangan Meriah
- Kelompok 2 Jurol E
- Jun 16, 2022
- 2 min read
Updated: Jun 19, 2022
Rangkaian acara Hari Jadi Kota Surabaya yang telah dibatasi selama dua tahun akibat pandemi kini kembali hadir. Termasuk Kesenian Ketoprak yang kembali ikut serta dalam memeriahkan Hari Jadi Kota Surabaya yang ke-729. Acara yang digelar pada Senin (30/5/2022) dan dimulai pukul 19.00 ini mengangkat cerita perjuangan tokoh Untung Suropati dalam melawan Belanda. Balai Budaya Komplek Balai Pemuda Alun-Alun Kota Surabaya dipilih menjadi latar tempat pertunjukan tersebut digelar.
Pertunjukan Ketoprak yang aslinya digelar selama 7 hingga 8 jam dipadatkan menjadi hanya sekitar 2 jam yaitu pukul 19.00 hingga 21.00. Alasan pemadatan durasi Ketoprak ini dikemukakan oleh Sutradara Ketoprak Ngesti Budoyo bernama Widayatno, “Kita buat padat ceritanya, tanpa ada tampilan Tari Gambyong padahal itu khasnya. Karena nanti panjang jadinya, ini saja 2 jam.”

Widayatno yang mengarahkan setiap pemeran telah berhasil menampilkan Ketoprak Ngesti Budoyo yang dapat menarik penonton. Penggunaan dialog berbahasa Jawa juga berhasil membuat penonton masuk ke masa penjajahan Belanda di kala itu. Kostum yang dikenakan oleh para pemeran mampu menggambarkan peran mereka masing-masing. Ditambah dengan ekspresi hidup yang tergambar dalam wajah pemeran membuat penonton semakin ikut dalam alur cerita Untung Suropati. Gamelan dan pencahayaan di dalam studio juga mendukung suasana, sehingga para penonton dapat tetap tenang dan fokus memperhatikan pertunjukan.
Meski begitu, pertunjukan ini tak luput dari kendala. Contohnya seperti beberapa kali microphone milik pemeran utama mati di tengah jalannya pertunjukan sehingga penonton tidak bisa mendengar dialog dengan jelas. Hal ini merupakan masalah yang meresahkan, mengingat tokoh Untung Suropati memiliki peran besar dalam cerita. Juga beberapa kali terdapat anak kecil yang naik ke panggung tanpa maksud yang jelas dan hampir menunda jalannya cerita. Namun di luar itu semua, pertunjukan Ketoprak ini tetap membuat para penonton senang dan terhibur.
Tepuk tangan meriah menjadi bukti bahwa penonton puas dengan hasil pertunjukan. Jumlah penonton yang bertahan sampai akhir pun tak beda jauh dengan jumlah awal. Diharapkan pertunjukan Ketoprak tahun ini dapat mengingatkan para anak muda untuk senantiasa mengingat sejarah.
“Ingat Jasmerah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah,” ujar seorang pemain di atas panggung.


Comments